oleh : Agustinus Setyawan
Lelah bergumul untuk mempersiapkan Ujian Akhir Semester. Aku mencoba menyalakan tv dan mencoba menikmati secangkir kopi. Berkali-kali aku mengganti chanel sampai juga aku pada tv berita yang dimiliki oleh pengusaha yg mempunyai perusahaan lumpur terbesar di dunia. Akupun langsung tertarik untuk mengetahui hasil kongres luar biasa yang dipromotori oleh Komite Normalisasi. Harapanku terpampang wajah ketua PSSI yang baru dengan headline SEPAKBOLA INDONESIA MENYAMBUT FAJAR BARU. Kenyataannya, berbalik 180 derajat. Terpampang di sana wajah FX Hadi Rudyatmo yang dikerumuni wartwan usai mengundurkan diri. Harapanku ini, ah bukan !!!! harapan seluruh masyarakat Indoesia sepertinya semakin terkubur dalam-dalam. Bukan menyambut fajar yang baru melainkan tersesat dalam kegelapan malam yang tak berujung. Kusimak dengan baik berita yang menambah sikap apatis dan skeptis masyarakat Indonesia pada perubahan di negeri ini. Tak puas dengan berita yang ada di koran lokal ini saya langsung meminta bantuan mbah Google.
Ternyata sidang ditutup karena kondisi yang tidak memungkinkan akibat kengototan kelompok 78 yang memperjuangkan kandidat mereka. Tak sampai di situ kelompok ini menuding Komite Nasional sebagai pihak yang mesti bertanggung jawab atak deadlock-nya kongres luar biasa. Sungguh menyedihkan menyaksikan kondisi seperti ini. Angin perubahan yang dihembuskan para pemerhati sepakbola nasional sejak menggulingkan rezim Nurdin Halid dari mulai berubah wujud menjadi keegoisan dan sikap memaksakan kehendak. Padahal perubahan selalu bersifat terbuka dan menuntut kerendahan hati untuk mendengarkan. Spirit of change memang harus ada namun jika kalau telinga tertutup dan tidak mau rendah hati mendengarkan orang lain perubahan itu malah mengakibatkan kemerosotan. Karena perubahan selalu mempunyai dimensi sosial. Tidak ada perubahan yang bisa dilakukan sendirian. Perubahan selalu bertumpu semangat kebersamaan dan persatuan, the people power. Untuk berjuang berjuang bersama tidak bisa tidak harus disingkirkan sikap egois. Saya harus kalahkan diri saya bukan rekan serperjuanganku. Sikap rendah hati dibutuhkan ketika kita tahu kita berseberangan dengan apa telah diputuskan demi perubahan. kita telah memperjuangkan yang terbaik namun ketika kita perlu koreksi diri jika perjuangan tersebut menjadi batu sandungan bagi perubahan.
Situasi sepakbola kita juga mencerminkan situasi sosial-politik negara kita pasca reformasi. Perhatikan saja hasil survei salah satu lembaga survei yang menyatakan bahwa rakyat lebih menyukai presiden Soeharto daripada presiden-presiden Indonesia. Padahal dalam reformasi Soeharto dianggap sebagai penjahat dan musuh. Mengapa? karena semangat pada masa awal reformasi sudah berubah. Sekarang semangat itu bukan semangat pembaharuan melainkan telah berubah menjadi egoisme dan fanatisme. Bukan perubahan yang menjadi orientasi melainkan penonjolan diri dan kelompok. Setiap kelompok politik dan gerakan-gerakan sosial berusaha mati-matian agar perjuangannya terwujud. Beruntunglah kalau itu demi kesejahteraan rakyat. Tapi kenyataannya tidak!!!! Berbaju kesejahteraan rakyat setiap orang dan kelompok ingin menunjukkan bahwa kami bisa berbuat sesuatu demi bangsa ini. Akhirnya mereka harus berhadapan satu dengan yang lainnya untuk membuktikan siapa yang paling pantas membangun Indonesia. Sehingga bukan perubahan lagi tapi kemerosotan karena keegoisaan dan fanatisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar