oleh : agustinus
nb : di kutip dari berbagai sumber
1. Dalam tradisi Buddha Gautama, Pañcaśīla adalah lima nilai kemoralan yang dilakoni demi mencapai Samadi.
2. Pañcaśīla Buddha Gautama meliputi Lima Tidak: tidak membunuh, mencuri, berzina, berdusta, dan makan-minum yg menggiurkan.
3. Ajaran untuk melakukan Tidak memberikan penekanan yg lebih kuat daripada yg sebaliknya. Dalam Islam, ajaran ini disebut Nafi'.
4. Tapi, dalam ajaran Islam, Nafi' [Pentidakan/ Pengingkaran disempurnakan dengan Isbat [Pengiyaan/ Pengukuhan].
5. Nafi' Isbat ini diajarkan dalam Ilmu Tauhid [Ilmu Memurnikan Keesaan Tuhan], khususnya mengenai Laa ilaaha illa 'l-Laah.
6. Nafi' berlaku pada "Laa ilaaha", pengingkaran terhadap Tuhan. Laa: tiada. Ilaaha: yg mutlak dituju, dipuji, dan disembah.
7. Isbat berlaku pada "illa 'l-Laah", pengakuan terhadap Tuhan. Illa: selain. Allaah: Yg Mutlak Dituju, Dipuji, dan Disembah.
8. Nafi'-Isbat wajib dilakoni sempurna, setimbang, dan seimbang. Itulah konsep Shiratal Mustaqiim dalam Islam. Samadi yg hakiki.
9. Laa ilaaha illa 'l-Laah adalah Kalimat Thoyibah atau kalimat yg baik, yg di dalamnya memuat yin-yang, tidak dan ya, sekaligus.
10. Samadi dalam Islam termaktub dalam Q.S. 112:2 "Allahu ash-Shamad" [Allah, kepadanya segala sesuatu bergantung].
11. Mencapai Samadi, sebagaimana diajarkan oleh Buddha Gautama, ialah mencapai kondisi Gumantung Tanpa Canthelan dalam ilmu Jawa.
12. Gumantung Tanpa Canthelan [Bergantung tanpa Pengait] diibaratkan langit yg kokoh tanpa tiang -- karena Tuhan yg menopangnya.
13. Dalam ajaran Islam, berpegang pada gantungan tanpa pengait diibaratkan sebagai berpegang pada buhul yg takkan putus.
14. Dalam Q.S. 2:256, buhul ini adalah "Laa ilaaha illa 'l-Laah, Muhammadan rasuulullaah", inilah jalan mencapai Samadi.
Segala mengenai Ketauhidan [Ilmu Memurnikan Keesaan Tuhan] itu terangkum dalam Q.S. 112:1 "Allahu Ahad" [Tuhan Yg Maha Esa].
16. Dari sinilah kiranya Soekarno melahirkan sila kesatu dari Pancasila Republik Indonesia, yaitu Ketuhanan yg Maha Esa.
17. "Ketuhanan Yang Maha Esa" mengandung Allahu Ahad, Allahu ash-Shamad, dan Laa ilaaha illa 'l-Llaah, Muhammadan Rasuulullah.
18. Mudah dimaklumi mengapa Wahid Hasyim berjuang menghapus kata "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk2nya".
19. Sebab, Wahid Hasyim mencita2kan nilai kemoralan yg melampaui kewajiban menjalankan syariat, yaitu keadaan Samadi, bertauhid.
20. Kalimat "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk2nya" diganti dengan kata sifat yg mutlak: "Yang Maha Esa."
21. Sifat Allah sebagai Yang Maha Esa ini tercantum dalam 20 Sifat Wajib Allah, yaitu Wahdaniyah. KeesaanNya tanpa sekutu.
22. Tak banyak yg tahu bahwa Soekarno muda mengaji ilmu Tasawuf dari H.O.S. Cokroaminoto ketika ia belum siapa-siapa, di Bandung.
23. Ilmu Tasawuf yg dipelajari berakar pada suluk Sunan Bonang. Di kemudian hari, pikiran Soekarno muda banyak dipengaruhi H.O.S.
24. Di situlah, rasa ketuhanan Soekarno ditempa yg dalam prosesnya meliputi Nafi' [pengingkaran] & Isbat [pengakuan] atas Tuhan.
25. Menjadi mudah dipahami mengapa Soekarno leluasa hati bergaul dg kalangan kiri dan kanan secara sempurna, setimbang, seimbang.
26. Selain oleh Soekarno, bagaimana "Nafi' Isbat Laa ilaaha illa 'l-Laah Muhammadan Rasuulullah" dijalankan, lihatlah Gus Dur.
27. Baru dari sila "Ketuhanan Yang Maha Esa", Soekarno dan Gus Dur menjelma Karakter Bangsa yg sangat kuat dan tak tergantikan.
28. Menjadi mudah dipahami mengapa Gus Dur yg Ketua Umum PBNU leluasa hati bergaul dg kalangan komunis, atheis, yahudi dan lain2.
29. Muslim, manusia yg bersyahadat, yg bersaksi Laa ilaaha illa 'l-Llaah Muhammadan Rasuulullaah, sempurnakanlah Nafi' Isbat.
30. Janganlah Nafi' saja tanpa Isbat. Jangan pula hanya Isbat belaka tanpa Nafi'. Demikian ramuan Pancasila diolah. Untuk Samadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar